Kamis, 01 Oktober 2020

Setengah Dua Belas Malam

Sudah setengah dua belas malam. Suara radiator dari dispenser pendinginku bersahutan dengan lirih angin kecil dari kipas tuaku yang berdebu. Lama menatap kosong ke langit-langit, mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang aku lakukan. Kilas balik tentang rencana yang tak pernah berjalan, mimpi yang tak pernah tergapai, dan asa yang pernah terpatahkan. Lima tahun adalah waktu yang cukup lama untuk seorang manusia dalam pertumbuhan. Belajar menelan, mengunyah, berguling, merangkak, berdiri, berjalan, berlari, terjatuh, berkomunkasi, dan menjadi manusia seutuhnya dengan logika sekedarnya. Lima tahun sudah aku mendiami ruang kecil yang bukan milikku ini, lima tahun yang kosong dengan berbagai intrik yang terkadang mengintip malu dalam kehidupanku. Lima tahun yang kuharap tidak pernah terjadi, waktuku membeku di saat itu. Waktu senyumanmu adalah satu yang selalu kunantikan, waktu yang aku harap untuk tidak maju kedepan.

Hmm mungkin hanya aku, ya pasti hanya aku. Karena setidaknya aku yakin bahwa kau tak mau terlibat dalam kisahku, dalam pencarian mimpiku, dalam perjalanan hidupku. Sesalku hanya satu, meyakini bahwa keyakinanku benar, bahwa kau memang enggan untuk memberi satu warna dalam hidupku, bahwa aku menyerah dalam meyakinkanmu untuk membunyikan satu nada dalam ruang kosongku yang kini hanya menimbulkan gaduh gema tak beraturan yang akupun tak tahu darimana asalnya. Kata terlambat tidak akan mewakili situasi ini, karena memang tak ada yang terlambat, tak ada yang terlewat, tak ada yang pergi, dan tak ada yang hilang. Tapi aku kehilangan. Setidaknya sebongkah hatiku yang dulu berisi kasih tiada pernah kembali. Sebongkah yang berharga milikku yang mungkin tak kausadari keberadaannya. Ya, kau memang selalu menyadari keberadaanku, aku tahu, tapi, aku pun dapat mengerti, jika semua yang kutawarkan bukan merupakan yang kau ingin, alih-alih kau butuh. Ya, kegelapan ini hanya milikku saja, bukan karena siapa siapa, hanya aku lebih suka pintuku tertutup rapat. Kegelapan yang terserap oleh dinding ruang kosong memberikan teduh yang membuatku nyaman, teduh yang tidak menyenangkan, tapi aku suka. Setidaknya kamu pernah memberikan teduh ini secara tidak langsung. Setidaknya memiliki rasa untukmu pernah membuka ruang ini untuk memiliki pintu dan jendelanya sendiri. Tapi aku lebih suka pintu ini tertutup, beserta sepasang jendelanya, dengan seluruh engsel yang mulai berdecit dan lubang kunci yang mulai berkarat. Sebuah ruang kosong kesukaanku, karena mengingatkanku bahwa kau pernah hadir di kehidupanku, meskipun tidak ada didalamnya.

Aku adalah seorang yang imajinatif. Setidaknya aku pernah membayangkan duduk di teras rumah dengan segelas teh, mengobrol tentang apa yang kita harus lakukan selanjutnya. Sebuah mimpi yang kekal. Pernah aku mencoba untuk meraihnya, tapi kini untuk apa? Kubiarkan mimpi itu terlupa dengan sendirinya. Tiap senja berkunjung, satu pertanyaan yang selalu kuajukan. Apakah masih perlu aku melanjutkan ini semua? Tanpa kisahmu di dalam kisahku? Dengan asaku yang karam di sejauh mata memandang? Dengan mimpiku yang tak pernah lagi dapat terwujud? Tapi, buktinya, aku masih disini. Melanjutkan ini semua, tanpa warnamu dalam gambar yang sedang aku lukis. Abu abu. Hanya warna itu yang saat ini aku punya. Gambarku hanya coretan-coretan tak terarah berwarna kelabu yang tak pernah akur satu sama lain. Kutatap lekat gambar itu, berulang kali aku ingin menyudahinya, namun sampai sekarang aku masih menggoreskan tinta kering dengan kuas usang yang tak lagi menggores kanvas dengan sempurna.

Ya, aku hanya rindu. Merindukan sesuatu yang tak pernah bisa kusanding. Merindukan mimpiku yang tak pernah bisa kukabulkan sendiri. Merindukan aku yang setidaknya bisa sedikit lebih bahagia dari hari ini. Jika kamu tak sengaja membaca tulisan ini, aku tidak pernah menyesali kehadiranmu, atau ketidakhadiranmu. Aku mensyukuri semua yang kamu pernah berikan. Terimakasih.

Sudah tengah malam lewat sekarang, semoga saat fajar menjelang nanti sedikit cahayanya akan menyelinap lewat lubang-lubang kecil dalam ruang kosong milikku dan memberikannya sedikit cahaya.